FIK ORNOP Sulsel, Alwy Rachman Bahas Silessureng

FIK ORNOP Sulsel, Alwy Rachman Bahas Silessureng

MAKASSAR fikornopsulsel.org– FIK ORNOP Sulsel, Alwy Rachman Bahas Silessureng – menggelar diskusi tematik di Markaz Esensi Foundation, Kompleks Maizonette, Makassar, Selasa (11/4/2017). Budayawan Sulsel, Alwy Rachman, hadir sebagai pemantik diskusi yang membahas perkembangan dan alternatif gerakan perempuan, khususnya pergeseran isu feminisme dari ideologi ke “sains”.

Para aktivis menilai, pergeseran itu membuka peluang mencari sains Nusantara menjadi alternatif. Apalagi gerakan perempuan sering membawa isu-isu dikotomis yang didasarkan pada pengetahuan Barat.

Menurut Alwy, budaya Bugis Makassar tidaklah patriarki secara lingustik, beberapa idiom-idiom perempuan mendominasi menjadi bahasa dan perempuan menempati posisi mulia dalam relasi sosial kebudayaan.

“Ini yang harus terungkap, terendapnya beberapa story itu karena disebabkan oleh benturan etnik dan agama, politik Orde Baru, konflik sosial, politik lokal, dan benturan pemikiran barat. Sehingga yang muncul hanya history yang didominasi oleh kekuasaan dan lelaki,” jelas Alwy.

Padahal, menurut dosen senior Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) itu, sangat banyak story yang menempatkan perempuan secara terhormat dan cukup jelas terlihat dalam relasi kebudayaan sosial.

Alwy menjelaskan, antara lain, kosa kata Bugis “Silsessureng”. Kata yang diartikan sebagai “saudara kandung”, menurut Alwy, sangat feminis. Kata ini merujuk pada kelamin wanita. “Silessureng” berarti, keluar dari “pintu” yang sama.

Diskusi dihadiri beberapa aktivis ornop senior seperti Mapppinawang, Asmin Amin, Rasyid Idris, Yudha Yunus, Khudri Arsyad, Lusi Pulungan, dan Sustriana.

Koordinator FIK Ornop Sulsel, M Asram Jaya, juga admin WhatsApp FIK ORNOP SS dan moderator diskusi, mengatakan, diskusi tematik akan secara rutin dilakukan, sebagai media untuk menemukan gagasan alternatif yang menjadi peran dari NGO.

“Dalam diskusi ini juga melahirkan beberapa hal yang dianggap perlu untuk memaksimalkan gerakan perempuan dalam mendorong perubahan yang sekaligus menjadi gerakan kebudayaan yang bertumpu pada nilai-nilai universal,” jelas Asram.

Terungkap, budaya Bugis, Makasar, Mandar, dan Toraja sangat sarat dengan story perempuan yang mesti dinarasikan dan menjadi bagian dari gerakan perempuan. Sehingga feminisme tidak berhenti pada ideologi, namun berkembang menjadi sains.(*)

Sumber : http://makassar.tribunnews.com/2017/04/11/diskusi-grup-whatsapp-fik-ornop-ss-alwy-rachman-bahas-silessureng

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *